Senin, 05 September 2011

Kiriman Dataaang..

Malam Selasa, 5 September 2011.

Yeah!
Kiriman dataaang..
Makasih ibuu.. :*
hihihi..
Bagus bajunya, bagus roknya, *sesuai selera*
My mom is the best.. :)

White's Vega Star

Mirror Neuron

Manado, tepatnya di Kelas Kuliah Pakar, 5 September 2011, 11:59.

Kuliah pakar dari Dr. dr. Taufiq Pasiak, M.Pd., M.Kes. tadi, ada yang menarik menurutku. Materinya keren. Enak. Gurih. *emang krupuk?* haha. Ternyata di otak kita ada yang namanya MIRROR NEURON, yaitu kecenderungan untuk meniru. Jadi jangan heran jika lawan bicaramu terkadang cenderung meniru gaya yang kau lakukan. Haha, plagiator. Eits, jangan jadi plagiator. Untuk yang satu ini jangan ditiru. :p

Okeeh. Otak kita sungguh adikarya Tuhan yang "wah". Coba bayangkan jika manusia tidak punya otak? Hm. Salah, salah. Binatang pun punya otak. Haha. Yang membedakannya adalah AKAL. Semua orang tahu itu. Namun yang jadi pertanyaan, sudahkah kita menggunakan otak kita untuk berpikir? Hayooo. :p Atau hanya lebih menggunakan alam bawah sadar kita? Yaah. Nyatanya dalam kehidupan hari-hari kita, dalam setiap tindakan kita, semuanya lebih ke arah pikiran otomatis, dan faktanya, pikiran otomatis cenderung pada kenyamanan. Bukan begitu? ;)

Yang harus kita lakukan saat ini adalah BAGAIMANA PIKIRAN BISA MENGGERAKKAN SETIAP TINDAKAN KITA? Jangan hanya ingin merasa nyaman saja. Cobalah untuk menganalisis setiap hal yang tidak nyaman. Karena dengan kemampuan analisis, kau mampu menyelesaikan beberapa masalah. Yeah! Analisis, memecahnya menjadi beberapa fragmen. Kemudian mencoba menggali banyak informasi hanya dari satu fakta. Hebat nian bukan? Karena pemikir yang BENAR adalah seseorang yang cakap dalam menganalisis fakta.

"Manage your thought, then manage your life!" :)

White's Vega Star

Sabtu, 03 September 2011

My Beloved Family


Ayah dan Ibuku tercinta :)
Orang tua yang selalu menyayangiku dan paling mengertiku.
Tanpa beliau, saya bukanlah apa-apa. :D


Ayahku. 
Ayah nomor satu dihatiku. 
Ayah terhebat yang tak ada seorang pun dapat menggantikan beliau. :)


Ibuku.
Ibu yang sangat aku sayangi.
Juga ibu nomor satu dihatiku. :)
Beliau yang terhebat.
Ibu luar biasa yang Allah anugerahkan untukku. :D


Aku dan adik-adikku.
Saudara-saudari tersayang. :)


Nah, yang ini adik pertamaku, cantik kan? 
Tapi masih lebih cantik kakaknya dong. hahaa. ;)


Adikku yang kedua, hihi.
Umurnya beda jauh dari adikku yang pertama.
Baru kelas 6 SD. :)


Naah, ini adikku yang terakhir.
Satu-satunya adik laki-lakiku.
Umurnya baru satu tahun beberapa bulan.

Sebenarnya masih mau nambah foto mama, tapi belum ada.
Mama adalah saudara ayah, tapi sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.
Jadi, aku punya dua ibu, hihi.
Beliau yang menjagaku kala ibu mengajar. :)

AKU RINDU KELUARGAKU.

Ngoceh..

Kesal. Kesal. Kesal.
Kenapa sih ada orang yang menjengkelkan sekali?
Agggrrrhhh. *naik darah*

Biarlah aku jadi diriku.
Toh, aku bersyukur jadi diriku.
Tak peduli aku tak sesuai dengan yang kalian harapkan atau TIDAK.

 _________________________

Aku benci dibilangi. Inilah. Itulah.
Tidak capek apa ngoceh ini-itu tentangku?
Heeeyy, mengertilah akuu.
Cobalah memahami arti hadirku.

Inilah aku! Bukan dia.
Jadi jangan samakan aku seperti DIA.

*narik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya, fiuuuuh*

White's Vega Star

Aku dan Kenanganku

Ada banyak kisah yang mengawali pagi.
Ada banyak cerita yang menutup hari.
Semua tentang kita.
Rangkaian drama persahabatan berharga yang pernah kumiliki.
Bahkan berlian pun tak mampu menandinginya.

Kau boleh menangis, namun percayalah bahwa kau tak sendiri, ada aku bersamamu.
Tertawalah, berbahagialah.

Aku akan turut merasakannya, wlau tak kau bagi sekalipun kpdaku.
Karena persahabatan lebih berharga bahkan dari dirimu sendiri, kawan.

Sahabat sejati tak akan berpikir lama untuk membantu sahabatnya.
Tak peduli apa yang akan terjadi agar sahabatnya bahagia.
Bahkan rela merasakan sakit asal sahabatnya bahagia.

Aku bahagia memiliki kalian, kalian yang telah memberi warna indah dalam hidupku.
Biarlah kenangan kita menjadi cerita kala tua nanti.
Juga menjadi kerinduan kala kita telah hidup masing-masing dengan mimpi yang nyata.

Indah, persahabatan kita terlalu indah untuk dilupakan, kawan. :) 


Manado, 3 September 2011; 08.25.

Jumat, 02 September 2011

10 Karakteristik Muslim Sejati

Menurut Imam Hasan Al Bana, berikut ini yang menjadi sifat pembeda nan khusus yang bisa menjadikan Remaja Islam berkarakter muslim sejati yang niscaya menjadi soko guru peradaban dunia ini.

10 Karakteristik Muslim Sejati
  1. Salimul Aqidah, Bersih Akidahnya dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan diri dari syirik.
  2. Shahihul Ibadah, Benar Ibadahnya menurut AlQur'an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid'ah yang dapat menyesatkannya.
  3. Matinul Khuluq, Mulia Akhlaknya sehingga dapat menunjukkan kepribadian menawan dan dapat meyakinkan semua orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin).
  4. Qowiyul Jismi, Kuat Fisiknya sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT.
  5. Mutsaqoful Fikri, Luas wawasan berfikirnya sehingga mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya.
  6. Qodirun 'alal Kasbi, Mampu berusaha sehingga berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain.
  7. Mujahidun linafsihi, Bersungguh sungguh dalam jiwanya sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan yang ada untuk menjalankan perintah Rabb-Nya..
  8. Haritsun 'ala waqtihi, Efisien dalam memanfaatkan waktunya sehingga menjadikannya sebagai seorang yang pantang menyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, walau sedetikpun.
  9. Munazhom Fii Su'unihi, Tertata dalam urusannya sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya.
  10. Naafi'un Li Ghairihi, Bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadikannya seseorang yang bermanfaat dan dibutuhkan. Keberadaannya akan menjadi sebuah kebahagiaan bagi orang lain dan Ketiadaannya akan menjadikan kerinduan pada orang lain.
Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan diatas menjadikan kita termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam diri kita. Amin.

Sumber:
Note Muhammad Ma'ruf Rahmat Jahuddin, http://www.facebook.com/notes/#!/note.php?note_id=371040089959

Semoga Bermanfaat! ;)

Mencintai Sejantan Ali

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr: ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Sumber:
Note Kak Ihsan, http://www.facebook.com/notes/tagged/?s=120#!/note.php?note_id=134711797334
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...